ULKUS DEKUBITUS

            Ulkus dekubitus adalah area jaringan nekrosis yang muncul ketika jaringan lunak tertekan antara tulang yang menonjol dan permukaan eksternal (tempat berbaring) dalam waktu yang lama. Menurut Gosnell dan VanEtten, sekitar 1 juta orang terkena ulkus dekubitus di Amerika Serikat. Namun, informasi definitif dan penjelasan mengenai lesi yang terkena masih terbatas. Insidensi pasien rawat inap berkisar antara 27- 29% dengan prevalensi hingga 69%.3 Pasien yang menjalani perawatan ortopedi atau fraktur tulang bahkan mencapai insiden 66%. Pasien yang dirawat di rumah sakit menderita dekubitus sebanyak 3-10% dan 2,7% berpeluang terbentuk dekubitus baru.4,5 Luka tekan atau pressure ulcer mengganggu proses pemulihan pasien, mungkin juga diikuti dengan nyeri dan infeksi sehingga menambah panjang lama perawatan, bahkan adanya luka tekan dapat menjadi penanda prognosis yang buruk untuk pasien.

Ulkus dekubitus yang tidak ditangani dapat menyebabkan terjadinya osteomyelitis,sepsis bahkan kematian. Oleh karena itu, perawat harus menyusun intervensi keperawatan yang tepat dalam mencegah terjadinya ulkus dekubitus. Tahap awal dalam melakukan pencegahan ulkus dekubitus adalah mengidentifikasi pasien yang beresiko terkena ulkus dekubitus menggunakan skala pengukuran Norton, Braden atau Gosnell. Selanjutnya dilakukan pemilihan intervensi profilaktik. Menurut Maklebust dan Sieggreen (2001), cara pencegahan ulkus dekubitus adalah manajemen tekanan (termasuk shear dan friction), dengan cara perubahan posisi minimal setiap 2 jam, permukan yang mendukung (support surfaces), perawatan kulit dan manajemen status nutrisi pasien. Tindakan yang terpenting dalam menjaga integritas kulit adalah menjaga hidrasi kulit dalam batas wajar (tidak terlalu lembab atau kering). 

Menurut Registered Nurse’s Association of Ontorio (RNAO) (2005), Salah satu intervensi dalam menjaga integritas kulit adalah dengan cara memberikan pelembab lubrikan seperti lotion, krem dan saleb rendah alkohol atau mengunakan barier pelindung kulit seperti liquid barrier films, transparent films dan hydrocolloids. Penelitian yang dilakukan oleh Declair (1996) menunjukkan bahwa aplikasi topikal asam lemak esensial efektif dalam meningkatkan hidrasi dan elastisitas kulitserta membantu mencegah terjadinya ulkus dekubitus pada pasien dengan status gizi buruk (Ostomy Wound Manage, 1997). Selain itu, Thomas tahun 2001 melakukan penelitian perbandingan efektivitas asam lemak peroksigenasi pada aplikasi topikal dengan pengobatan plasebo. Penelitiannya menunjukkan bahwa asam lemak dapat melindungi kulit terhadap shear dan friction serta dapat menurunkan hiperproliferasi pertumbuhan kulit yang mengarah pada terbentuknya ulkus dekubitus. Asam lemak essensial dapat juga diperoleh dari biji Nigella sativa (NS) yaitu tumbuhan dari family Ranunculacea yang telah digunakan selama berabadabad untuk meningkatkan kesehatan dan memberantas penyakit terutama dalam dunia Islam pada wilayah Timur Tengah.

 Nah, teman-teman pembahasan diatas adalah informasi mengenai ulkus dekubitus, semoga setelah kalian membaca ini akan menambah informasi teman-teman dan tidak lupa harus selalu jaga kesehatan dan jangan lupa untuk memakai masker dan menjauhi kerumunan, walaupun COVID-19 sudah mereda tapi tetap harus patuhi protokol kesehatan ya teman-teman. Mungkin dicukupkan dulu ya teman-teman. Tunggu pembahasan lainnya di blog ini ya, yang tentunya bakalan menarik dan bisa menambah ilmu pengetahuan teman-teman semuanya.

Terima Kasih. 

 

 

REFERENSI

Mutia, L., Pamungkas, K. A., & Anggraini, D. (2015). Profil Penderita Ulkus Dekubitus yang Menjalani Tirah Baring di Ruang Rawat Inap RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau Periode Januari 2011-desember 2013 (Doctoral dissertation, Riau University).

Utomo, W., Dewi, Y. I., & Abdurrasyid, T. (2012). Efektivitas Nigella Sativa Oil Untuk Mencegah Terjadinya Ulkus Dekubitus pada Pasien Tirah Baring Lama. Jurnal Ners Indonesia2(2), 151-157.

BAHAYA SELF DIAGNOSE TERHADAP KESEHATAN MENTAL

Kesehatan mental atau al-Tibb alRuhani pertama kali diperkenalkan dunia kedokteran islam oleh seorang dokter dari Persia bernama Abu Zayd Ahmed ibnu Sahl al-Balkhi. Ia biasa menggunakan istilah al-Tibb al-Ruhani untuk menjelaskan kesehatan spritual dan kesehatan psikologi (Ariadi, 2013). Menurut WHO (1990), kesehatan mental adalah kondisi kesejahteraan (wellbeing) seorang individu yang menyadari kemampuannya sendiri, dapat mengatasi tekanan kehidupan yang normal, dapat bekerja secara produktif dan mampu memberikan kontribusi kepada komunitasnya. Menurut White dan Horvitz (2009) self diagnose adalah upaya memutuskan bahwa diri sedang mengidap suatu penyakit berdasarkan informasi yang diketahui. Berbagai alasan individu akhirnya melakukan self diagnose. Self diagnose seringkali dilakukan karena rasa penasaran dengan gejala yang sedang dialami yang kemudian dibandingkan dengan referensi yang dimiliki. Selain itu, ada pula yang melakukan self diagnose karena merasa khawatir akan diberi diagnosis penyakit yang buruk setelah berkonsultasi dengan dokter (Akbar, 2019). Kurangnya kepercayaan terhadap dokter juga menjadi alasan seseorang melakukan self diagnose (Kim & Kim, 2009).

Dalam sebuah wawancara, Psikolog Arjadi (2019) menyatakan bahwa self diagnose cenderung berdampak negatif apabila seseorang tergesa-gesa dalam mengambil keputusan dan tidak menindaklanjuti hasil self diagnose kepada ahli. Saat ini banyak informasi kesehatan yang tidak valid beredar di internet. Kesalahan self-diagnose yang dilakukan individu yang hanya berdasarkan informasi di internet dapat berdampak lebih buruk apabila individu menindaklanjutinya dengan cara pengobatan yang tidak tepat. Informasi kesehatan yang tersedia di internet, buku ataupun majalah berguna untuk mengenali gejala suatu penyakit, antisipasi terjangkit penyakit dan untuk membiasakan gaya hidup yang sehat. Namun, untuk diagnosis suatu penyakit atau gangguan kesehatan mental diperlukan konsultasi lebih lanjut dengan seorang ahli. 

Menurut Psikolog Persada (2021), self diagnose pada kesehatan mental dapat membuat individu |mengalami kecemasan berlebih. Individu yang mengalami gangguan kecemasan dapat berperilaku tidak lazim seperti panik tanpa alasan, takut yang tidak beralasan terhadap objek atau kondisi kehidupan dan melakukan tindakan berulang-ulang tanpa dapat dikendalikan (Diferiansyah dkk., 2016). Hal tersebut menunjukkan bahwa self diagnose dapat menjadi salah satu penyebab seorang individu mengalami gangguan kesehatan mental. Gangguan kesehatan mental rentan terjadi pada usia remaja hingga dewasa awal. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan terhadap 393 responden berusia 16-24 tahun, diketahui sebanyak 95% responden mengalami kecemasan, 88% responden mengalami gejala depresi dan 96% responden kurang memahami cara untuk mengatasi stres yang dialami (Kaligis, dkk., 2021). Sampai saat ini belum ditemukan penelitian mengenai dampak yang ditimbulkan dari self diagnose terhadap kesehatan mental pada berbagai kelompok usia.

 Nah, teman-teman pembahasan diatas adalah informasi mengenai bahaya self diagnose terhadap kesehatan mental, semoga setelah kalian membaca ini akan menambah informasi teman-teman dan tidak lupa harus selalu jaga kesehatan dan jangan lupa untuk memakai masker dan menjauhi kerumunan, walaupun COVID-19 sudah mereda tapi tetap harus patuhi protokol kesehatan ya teman-teman. Mungkin dicukupkan dulu ya teman-teman. Tunggu pembahasan lainnya di blog ini ya, yang tentunya bakalan menarik dan bisa menambah ilmu pengetahuan teman-teman semuanya.

Terima Kasih.

 

REFERENSI

Maskanah, I. (2022). Fenomena Self-Diagnosis di Era Pandemi COVID-19 dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental. JoPS: Journal of Psychology Students1(1), 1-10.

PENTINGNYA MENATA RUTINITAS TIDUR

Mahasiswa Perlu Melakukan Manajemen Tidur 
 “Pentingnya Menata Rutinitas Tidur”
 Karya: Yulia Triyani 

        Tidur merupakan proses dimana mata tertutup selama beberapa waktu sebagai masa istirahat bagi mental dan aktivitas manusia kecuali pada organ tubuh vital misalnya jantung, sirkulasi darah serta paru-paru. Kebutuhan tidur pada orang dewasa yaitu memiliki durasi rata-rata 7,5 hingga 8 jam per malam. Kondisi tidur terbagi menjadi 2 tahap yaitu tidur non rapid eye movement (NREM) serta tidur dengan rapid eye movement (REM).. Pada saat tidur kondisi NREM yaitu terjadinya kenaikan aktivitas parasimpatis Selama tidur NREM di sepertiga pertama periode tidur akan menyebabkan peningkatan pada sekresi hormon pertumbuhan, seperti sekresi prolactin. Tidur NREM yang biasanya terjadi yaitu tidur tanpa mimpi atau mimpi yang tidak dapat diingat. Pada kondisi ini, seseorang dapat mengalami gerakan tersentak tiba-tiba atau merasakan sensasi seperti terjatuh, biasanya berlangsung selama 10 sampai 15 menit. Tahapan dari tidur NREM ini meliputi tahap satu dengan mata tertutup, tahap kedua yaitu gerakan mata berhenti dan gelombang otak lebih lambat, kemudian tahap ketiga dan empat yaitu tahap tidur gelombang lambat sehingga apabila terbangun pada tahap ini akan merasa bingung, tahapan ini sebaiknya tidak berlangsung secara singkat agar memiliki siklus tidur yang memuaskan.

        Selanjutnya, terdapat tidur REM yaitu kondisi tidur dimana terjadi peningkatan parasimpatis dan simpatis secara intermiten. Pada tidur REM terjadi sekitar 90-120 menit. Tidur REM yaitu tidur yang biasanya sering disertai mimpi, pada proses ini memiliki peranan penting dalam melakukan proses menyimpan memori jangka panjang. Begitulah siklus yang terjadi pada masa tidur. 

     Perlu diketahui bahwa tidur merupakan suatu kebutuhan dimana pada saat tidur akan banyak hormon yang bekerja, sehingga apabila seseorang kekurangan tidur maka akan menyebabkan kurangnya hormon utama yang disekresi. Namun, kebanyakan Mahasiswa sering menyepelekan tidur, dan memiliki pola tidur yang tidak teratur. Salah satu faktor pola tidur yang tidak teratur yaitu dengan begadang. Begadang merupakan kebiasaan tidak tidur hingga pagi hari. Apabila hal ini dilakukan setiap malam, maka akan terbentuk kebiasaan yang buruk. Perlu diketahui bahwa begadang dapat menyebabkan beberapa gangguan yang dapat dialami oleh tubuh, seperti stress, menimbulkan kecemasan, selain itu juga begadang dapat menurunkan daya imun sehingga menyebabkan penurunan produktivitas, konsentrasi serta kesulitan dalam mengontrol emosi. 

      Beberapa Mahasiswa memutuskan untuk begadang dikarenakan padatnya tugas, dan Kegiatan lainnya. Sehingga pola tidur mulai tidak teratur, begadang menjadi kebiasaan yang dimiliki oleh Mahasiswa. Padahal sebenarnya memiliki jam tidur yang baik dapat mempengaruhi kualitas tubuh dalam beraktivitas. Lalu pola tidur sehat seperti apa yang seharusnya dimiliki oleh Mahasiswa. Pola tidur yang konsisten, dengan mengatur waktu tidur serta waktu bangun agar terbentuk rutinitas yang baik. 

        Kita sebagai Mahasiswa harus mampu untuk melakukan manajemen waktu untuk tidur. Tugas bukanlah sebuah alasan yang menyebabkan tidur kita kurang dari 5 jam. Kebanyakan dari Mahasiswa sering menunda tugasnya, sehingga menyebabkan deadline yang mepet, tugas lain menumpuk, dan membuat semuanya harus dapat diselesaikan pada durasi satu hari. Sebaiknya, Mahasiswa dapat membagi waktunya, dan menyingkirkan rasa malasnya untuk mulai menyicil tugas berdasarkan skala prioritas. Adapun hal-hal yang dapat kita lakukan dalam melakukan manajemen tidur yaitu dengan memasang alarm untuk memulai mengerjakan tugas dan menyediakan reward yang bisa diberikan kepada diri sendiri agar semakin rajin untuk menyelesaikan target pada hari tersebut. Semua dapat terbentuk melalui kebiasaan, maka manajemen waktu ini akan membantu Mahasiswa untuk memperoleh pola hidup sehat dengan mencapai pola tidur yang teratur. 

        Manajemen waktu yang dapat dilakukan meliputi saat ada waktu luang, bisa dimulai mengerjakan tugas yang jangka waktu pengumpulannya sebentar lagi, setelah itu istirahat 5-10 menit untuk refresh kembali, kemudian mulai membuat catatan perkembangan progress tugas, kemudian pada saat istirahat waktu kuliah, bisa digunakan untuk makan dan aktivitas lainnya. Setelah selesai jam kuliah, bisa mulai mencicil kembali tugas-tugas ringan hingga berat ataupun sebaliknya, sesuai dengan mood pada saat itu. Sedangkan untuk reward yang dapat diberikan bisa berupa membeli makanan atau minuman favorit, mampir di kedai es krim, menonton film. Semuanya dapat dilakukan setiap hari secara berkala, sehingga dapat terbiasa, jadi saat malam tiba, tugas yang harus diselesaikan tidak terlalu berat. Sehingga waktu tidur dimalam hari dapat lebih panjang. Apabila waktu tidur lebih panjang, maka konsentrasi Mahasiswa yang terbentuk pada keesokan harinya pun akan semakin baik. Maka dari itu, Mahasiswa harus mulai mendisiplinkan diri dan mau membentuk kebiasaan baru. 


 Daftar Pustaka 

Fungsi Tidur dalam Manajemen Kesehatan, Volume 8 (2 2019). 

Iklima, N. Y. (2017). Perancangan Infografis Tentang Dampak Kebiasaan Begadang Terhadap Pola Tidur Sehat Bagi Remaja. Jurnal Sketsa, 53-60. 

Putra, I. A. (2019). Dampak Begadang Terhadap Kesehatan Mental Remaja Kecamatan                     Mojosari. pp. 1-7 

Popular Posts

Blogger templates

Diberdayakan oleh Blogger.

VAKSIN BOOSTER UNTUK MENINGKATKAN IMUNITAS

                                             Vaksin   booster   untuk   meningkatkan   imunitas                                    (Oleh: fa...

Popular Posts

Cari Blog Ini

SEARCH

Cari Blog Ini

FOLLOW US

SEARCH

Facebook

Advertisement

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

A Team Of Awesome People

A Team Of Awesome People
We are a creative web design agency who makes beautiful websites for thousands of peoples.

A Team Of Awesome People

We are a creative web design agency who makes beautiful websites for thousands of peoples.

Facebook

Facebook

3-comments

Blogroll

Facebook

Blogger templates

Popular

Popular Posts

Popular Posts

Popular Posts

Popular Posts