PENGGUNAAN OBAT ANTIBIOTIK UNTUK PASIEN FARINGITIS
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah infeksi yang menyerang tenggorokan, hidung dan paru-paru yang berlangsung kurang dari 14 hari. ISPA menyerang salah satu bagian dan atau lebih dari saluran pernafasan mulai dari hidung hingga alveoli termasuk jaringannya seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura. Dengan demikian, ISPA adalah suatu tanda dan gejala akut akibat infeksi yang terjadi di setiap bagian saluran pernafasan atau Struktur yang berhubungan dengan pernafasan yang berlangsung tidak lebih dari 14 hari (Nelson, et. Al. 2010).
Indonesia
merupakan negara dengan angka kejadian penyakit infeksi yang tinggi, terutama
infeksi saluran pernapasan. Penyakit ini diawali dengan panas disertai salah
satu atau lebih gejala seperti: Tenggorokan sakit atau nyeri telan, pilek,
batuk kering atau batuk berdahak. Angka kejadian penyakit infeksi saluran nafas
di Indonesia mencapai 25 %. Menurut Hasil riset kesehatan dasar, prevalensi
infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menunjukkan bahwa 5 provinsi dengan ISPA
tertinggi adalah Nusa Tenggara Timur (41,7%), Papua (31,1%), Aceh (30,0%), NTB (28,3%), dan Jawa Timur (28,3%) (Kemenkes RI, 2013).
Menurut profil kesehatan provinsi Bali tahun 2016, faringitis akut adalah salah satu penyakit yang termasuk dalam pola 10 penyakit terbanyak pada pasien di tempat pelayanan kesehatan khususnya apotek tahun 2016, dengan jumlah kunjungan sebanyak 77.042 kali dan termasuk dalam pola 10 besar penyakit pada pasien rawat jalan di RS tahun 2015 (Dinas Kesehatan Provinsi Bali, 2017).
Faringitis
merupakan kondisi peradangan pada mukosa faring, jaringan limfoid, muskulus dan
jaringan lemak di sekitar faring. Infeksi saluran nafas ini mendominasi infeksi
lainnya seperti infeksi saluran cerna, infeksi saluran kemih, kulit bahkan
infeksi sistemik (Kemenkes RI, 2013). Beberapa penyebab faringitis adalah
infeksi (viral, bakterial atau jamur), refluks laringofaring, penyakit
inflamasi atau autoimun, trauma, neoplasma, dan kebiasaan merokok (Ferrara et
al., 2013).
Faringitis pada umumnya dapat sembuh sendiri. Namun, jika faringitis ini berlangsung lebih dari 1 minggu, masih terdapat demam, pembesaran nodus limfa, atau muncul bintik kemerahan, hal tersebut berarti dapat terjadi komplikasi dari faringitis, seperti demam reumatik. Beberapa komplikasi faringitis akut yang dapat terjadi ialah demam scarlet, yang di tandai dengan demam dan bintik kemerahan, demam reumatik, yang dapat menyebabkan inflamasi sendi, atau kerusakan pada katup jantung, glomerulonephritis yakni komplikasi berupa respon inflamasi terhadap protein spesifik. Kompleks antigen-antibody yang terbentuk dan berakumulasi pada glomerulus ginjal serta abses peritonsilar lBiasanya disertai dengan nyeri faringeal, disfagia, demam dan dehidrasi (Susy, 2013).
Untuk
penatalaksaan medis, disamping penatalaksaan mandiri oleh pasien yang dapat
membantu mengurangi atau mengobati gejala farinigitis, juga dibutuhkan terapi
untuk mengeradikasi penyebab utama, salah satunya adalah pemberian antibiotik.
Pemberian antibiotik hanya diberikan pada kasus faringitis yang terbukti akibat
infeksi bakteri, misalnya pada infeksi Group A Streptococcus fi-haemolyticus
(GAS). Pemberian antibiotik bertujuan untuk membunuh bakteri untuk mencegah
komplikasi berupa demam reumatik maupun penyakit jantung rematik. Pilihan
antibiotik yang direkomendasikan ialah amoxicillin, penicillin v, dan
benzathine penicillin. Pada penderita dengan riwayat alergi penicillin, pilihan
antibiotik cephalexin, cefadroxil, clindamisin, claritromisin dan azithromycin.
Pemberian paracetamol atau nonsteroid antiinflammatory drugs (NSAID) dapat
dipertimbangkan untuk penanganan demam pada kasus faringitis (Chiapinni, et.
Al. 2017).
Penelitian
yang dilakukan pada negara berkembang membuktikan 73% dari dokter meresepkan
antibiotik untuk faringitis, yang sebagian besar disebabkan oleh bakteri. Di
negara berkembang, antibiotik diresepkan untuk 44-97% dari pasien rawat inap
dengan dosis yang tidak tepat.
Penggunaan antibiotik tidak
tepat dapat menyebabkan efek samping seperti, alergi atau diare,
meningkatkan biaya perawatan pengobatan, dan meningkatkan kemungkinan resisten
antibiotik (Malino, et.al.,2013).
Nah, teman-teman pembahasan diatas adalah informasi mengenai cara penggunaan obat antibiotik untuk pasien faringitis dari sumber yang ada, semoga setelah kalian membaca ini akan menambah informasi teman-teman semua mengenai cara penggunaan antibiotik untuk pasien faringitis. Selalu jaga kesehatan dan jangan lupa untuk memakai masker dan menjauhi kerumunan sesuai protokol kesehatan. Mungkin dicukupkan dulu yaa teman-teman. Tunggu artikel lainnya yang tentunya bisa menambah ilmu pengetahuan teman-teman semuanya hanya di blog ini terimakasih
Referensi
:
Dhrik,
M., & Prasetya, A. P. R. (2021). POLA PENGGUNAAN OBAT PADA PASIEN
FARINGITIS DEWASA DI PRAKTEK DOKTER BERSAMA APOTEK KIMIA FARMA TEUKU UMAR. Acta
Holistica Pharmaciana, 3(2), 14-23.
0 Comments:
Posting Komentar